azizherwit

Selasa, 19 Februari 2013

Perkembangan Psikososial 1: Sosioemosional pada Dewasa Madya



Bab I
Pendahuluan

A.      Latar Belakang
Seperti  yang terlihat pada fakta yang  terjadi,  dinegara yang sedang berkembang  khususnya di Indonesia angka  pertumbuhan penduduk  dewasa  terus meningkat  jumlahnya, hanya sebagain  masyarakat yang memperhatikan kuantitas dan kualitas dari  peningkatan tersebut. Fakta yang terjadi di berbagai aspek kehidupan, khususnya dari segi sosial, kita bisa melihat banyaknya kesenjangan sosial antara orang miskin dan orang kaya, orang yang bekerja dan  menganggur. Tidak adanya kepedulian sosial-emosional antara satu sama yang lain. Akibatnya  ketidakproduktifan usia dewasa akan membuat kondisi negara terbebani.
Apabila kita perhatikan masa dewasa merupakan masa yang sangat kompleks sekali, dilihat dari berbagai sisi kehidupan . Biasanya terlihat dari  produktivitas, prestasi, dan pencapain semua fase kehidupan yang penuh dengan pekerjaan,waktu luang, dalam kegiatan keluarga. Orang-orang memantapkan kariernya, mulai memantapkan pilihan mereka. Masa dewasa merupakan masa peralihan pandangan egoisentris menjadi sikap yang empati. Pada masa ini, penentuan relasi memegang peranan sangat penting. Menurut Havighurst (dalam Monks) dewasa awal  merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalin hubungan intim dengan lawan jenisnya. Hurlock (1993) dalam hal ini telah mengemukakan  masa dewasa awal masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya. Perkembangan sosio-emosional pada masa dewasa awal ini akan berpengaruh pada sisi kehidupan dilihat dari segi apapun sehingga perlu diketahui oleh masyarakat pentingnya mengetahui, perkembangan sosial-emosional dewasa awal ini.
Di masa dewasa pertengahan, sejumlah perubahan merupakan bentuk adaptasi terhadap peristiwa hidup luar(seperti sirklus kehidupan keluarga) yang sifatnya tidak lagi berdasarkan kelas usia dibandingkan dimasa lalu. Kebanyakan ornag dewasa paruh baya juga melaporkan perkembangan tahap-tahap,di mana masa-masa sulit memicu pemahaman dan tujuan baru.
B.      Rumusan Masalah
·         Apa pengertian dari sosio-emosional pada dewasa madya?
·         Bagaimana proses perkembangan sosio-emosional dewasa madya?
C.      Tujuan
·         Mengetahui dan memahami pengertian dari dewasa awal
·         Mengetahui proses perkembangan sosio-emosional
·         Memperkaya referensi dan menjadi masukan bagi pengembangan ilmu.
·         Mengatasi permasalahan dewasa dan upaya memperbaiki kualitas dan kuantitas masa dewasa. 



Bab II
Pembahasan

A.      Teori-teori  yang Bersangkutan
Ø  Teori Erikson : Generativitas vs Stagnansi
Generativitas melibatkan jangkauan pada orang lain dengan cara memberi dan membimbing generasi berikutnya.  Pada masa dewasa awal,  biasanya melalui kelahiran  dan pengasuhan anak dan membangun sebuah tempat dalam dunia kerja.  Generativitas  semakin bertambah luas di usia paruh baya, ketika komitmen melampaui (identitias), diri seseorang dan (keintiman) pasangan hidup seseorang (keintiman) menuju pada kelompok besar-keluarga, komunitas,atau masyarakat.  Ornag dewasa generatif menggabungkan  kebutuhan dan ekspresi  diri dan kebutuhan persekutuan, memadukan tujuan pribadi dengan kesejahteraan dunia sosial yang lebih luas. (McAdams & Logan,2004). Kekuatan nyang dihasilkan adalah kemampuan untuk memperhatikan orang lain dalam cara yang lebih luas dibandingkan sebelumnya. Erikson (1950) memilih istilah generativitas untuk mencakup segala hal yang dapat hidup lebih lama dari diri dan memastikan kesinambungan masyarakat dan perbaikan masyarakat: anak, gagasan, produk, karya seni.

Ø  Teori Gould : Transformasi
Roger Gould menghubungkan fase dan krisis dalam pandangannya tentang transformasi perkembangan. Dia menekankan bahwa paruh kehidupan adalah sama bergejolaknya dengan masa remaja, dengan pengecualian bahwa selama masa dewasa tengah, usaha untuk menangani krisis barangkali akan menghasilkan kehidupan yang lebih bahagia dan lebih sehat. Dia percaya bahwa dalam usia 20an, kita menerima peran-peran baru; dalam usia 30an kita mulai merasa terjepit dengan tanggung jawab kita; dalam usia 40an kita mulai merasakan perasaan urgensi bahwa hidup kita amat cepat berlalu. Menurut Gould, menangani krisis paruh kehidupan dan menyadari bahwa perasaan urgensi merupakan reaksi alami terhadap fase ini membantu kita menuju kematangan yang dewasa.

Ø  Teori Musim Kehidupan ala Levinson
Seperti masa dewasa awal, masa dewasa pertengahan dimulai dengan masa transisi (usia 40 tahun) hingga dengan usia 45 tahun. Selama masa ini orang menilai keberhasilan mereka menurut pemenuhan terhadap tujuan dewasa awal. Sdara bahwa sejak mulai saat ini lebih banyak waktu kedepan lebih sedikit dari waktu yang sudah berlalu, ,mereka semakin menghargai tahun tahun kedepan. Akibatnya, sebagian dari mereka melakukan perubahan drastis terhadap struktur kehidupan mereka: bercerai, menikah lagi, mengubah arah karir, atau meningkatkan kreativitas.
Salah satu alasannya adalah bagi banyak orang dewasa paruh baya, kemajuan karir dan pertumbuhan pribadi masih mungkin terjadi sekalipun sangat terbatas.
Menurut Levinson, untuk menilai ulang hubungan mereka dengan diri mereka sendiri dan dunia luar dan membangun kembali struktur hidup mereka, orang dewasa paruh baya harus menghadapi empat tugas perkembangan. Masing-masing tugas mengharuskan individu untuk mendamaikan pertentangan dua kecendrungan dlam dirinya sehingga harmoni batin yang lebih besar bisa diperoleh.
a.                   Muda-Tua:  Orang-orang paruh baya harus menemukan cara-cara baru menjadi muda dan tua sekaligus. Hal ini berarti meninggalkan sejumlah ciri-ciri muda tertentu, ,mempertahankan dan mengubah sebagian lainnya, dan menemukan makna positif saat menjadi orang tua. Barangkali karena standar penuaan. Sebagian besar perempuan paruh baya mengaku khawatir dengan  tampil kurang menarik saat usia mereka bertambah tua.
b.                   Pengrusakan-Penciptaan:  Seiring  semakin tingginya kesadaran akan kematian, orang paruh baya berfokus pada tindakan merusak yang pernah mereka lakukan dan bagaimana orang lain pernah melakukan hal yang sama. Tindakan menyakiti orang tua, pasangan intim, anak-anak, teman, dan rekan kerja, ditembus dengan keinginan kuat untuk aktif mengikuti kegiatan yang  memajukan kesejahteraan manusia, sehingga dengan demikian meninggalkan warisan bagi generasi mendatang. Citra akan sebuah warisan bisa dipenuhi dalam berbagai cara- melalui amal, produk kratif, bantuan sukarela, dan bimbingan anak muda.
c.                    Maskulinitas-Feminimitas: Orang paruh baya harus menciptakan keseimbangan yang lebih baik antara bagian maskulin dan feminimisme dari diri. Bagi laki-laki,  hal ini berarti penerimaan lebih besar terhadap sifat-sifat feminism, berupa pengasuhan dan kepedulian yang mengingkatkan hubungan-hubungan dekat dan penerapan otoritas yang penuh belas kasih di tempat kerja. Bagi perempuan biasanya menjadi lebih terbuka terhadap sifat-sifat maskulin berupa otonomi dan ketegasan (Gilligan,1982: Harris & Ellicont,& Holmes,1986).
d.                   Keterlibatan-Keterpisahan: Orang paruh baya harus menciptakan keseimbangan  yang lebih baik antara keterlibatan dan keterpisahan dengan dunia luar. Bagi Laki-laki, dan perempuan  yang berhasil dalam karir, hal ini berarti mengurangi kepedulian pada ambisius dan prestasi, lebih memperhatikan diri (Levinson,1996).
Kebanyakan orang dewasa merespon usia paruh baya dengan perubahan-perubahan yang lebih tepatnya digambarkan sebagai “titik balik” bukannya krisis. Hanya sebagian kecil mengalami Krisis yang ditandai dengan keraguan pada diri yang kuat dan stress yang mengarah pada perubahan hidup drastis.

B.      Hubungan di Usia Paruh Baya
Perubahan emosional dan Sosial diusia paruh baya berlangsung dalam sebuah jaringan kompleks hubungan keluarga dan persahabatan. Sekalipun sejumlah kecil orang paruh baya hidup sendiri, mayoritas-sebesar 90 persen di Amerika Serikat- hidup bekeluarga, sebagian besar bersama seorang  pasangan .
Fase dewasa pertengahan dari siklus kehidupan keluarga kerap kali disebut dengan melepaskan anak-anak dan bergerak maju”. Di masa lalu  fase ini sering disebut dengan  “sarang kosong”, tetapi istilah ini  menyiratkan transisi negative, terutama bagi perempuan. Ketika orang dewasa mengabdikan  diri sepenuhnya  pada anak-anak mereka, berakhirnya pengasuhan aktif dapat memicu perasaan hampa dan penyesalan. Akan tetapi, bagi  banyak orang, masa dewasa pertengahan   menjadi waktu yang  membebaskan, karena menawarkan perasan selesai dan kesempatan untuk meneguhkan hubungan yang ada dan mejalin hubungan. Ketika anak dewasa  meninggalkan rumah dan menikah, orang paruh baya harus menyesuaikan diri  dengan peran baru sebagai mertua dan kakek-nenek. Pada saat yang sama mereka harus membangun sebuah jenis hubungan berbeda dengan orangtua lansia mereka, yang mungkin sakit atau lemah dan kemungkinan meninggal dunia.
Ketertarikan dan cinta penting bagi kesejahteraan sepanjang hidup. Seperti hubungan pernikahan pada masa dewasa tengah, persahabatan, sifat hubungan saudara kandung, hubungan antar generasi, ini merupakan bahasan penting bagi dewasa tengah.
Ø  Cinta dan Pernikahan pada Paruh Kehidupan
 Cinta romantis, cinta penuh kasih sayang, sangat kuat pada masa dewasa awal. Cinta yang penuh kasih sayang atau sebagai teman mengalami peningkatan selama dewasa tengah. Ketertarikan fisik, percintaan, dan nafsu menjadi lebih penting pada hubungan baru, terutama pada dewasa awal. Sedangkan rasa aman, kesetiaan, dan daya tarik emosional antara yang satu dengan yang lainnya lebih penting seiring menjadi dewasanya hubungan, terutama pada masa hubungan dewasa tengah.  Sebagian ahli perkembangan percaya bahwa mutualitas memainkan peran utama dalam kedewasaan hubungan, yang terjadi apabila pasangan saling berbagi pengetahuan satu sama lain,  menerima tanggung jawab demi kepuasan bersama, dan berbagi informasi pribadi yang menentukan hubungannya (Berscheid, 1985; Levinger, 1974).
Ø  Pernikahan dan Perceraian
Sekalipun tidak semua pasangan mapan secara keuangan, rumah tangga paruh baya masih lebih baik secara ekonomi disbanding kelompok usia lainnya. Kepuasan pernikahan merupakan penaksiran yang kuat bagi kesehatan psikologis paruh baya. Laki-laki paruh baya yang hanya berfokus pada karir  sering kali kemudian sadar akan keterbatasan usaha mereka. Pada saat yang sama istri-istri mereka mungkin menuntut hubungan yang lebih memuaskan. Anak-anak yang sepenuhnya terlibat dalam peran dewasa mengingatkan orang tua paruh baya bahwa mereka sedang berada dalam babak akhir kehidupan mereka, sehingga mendorong banyak mereka untuk memutuskan bahwa sekarang lah waktunya untuk memperbaiki pernikahan mereka (Berman & Napier, 2000).
Seperti di masa dewasa awal, perceraian menjadi salah satu cara menyelesaikan pernikahan tidak  memuaskan di usia paruh baya. Meskipun perceraian  paling banyak terjadi dalam waktu lima hingga sepuluh tahun pernikahan, sekitar 10 persen terjadi  setelah 20 tahun atau lebih (U.S Departement of healt and Human Services,2002).  Percerain di usia berapapun memiliki dampak psikologis yang berat, tetapi orang paruh baya tampaknya lebih mudah beradaptasi dibandingkan orang lebih muda. Sebuah survei melibatkan lebih dari 13.000 orang Amerika mengungkapkan bahwa setelah perceraian, laki-laki dan perempuan paruh baya melaporkan sedikit penurunan kesehatan psikologis dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang lebih muda.
Oleh karena angka perceraian dua kali lipat lebih tinggi di kalangan pasangan menikah yang rujuk kembali dibandingkan dalam pernikahan  pertama, sejumlah besar perceraian paruh baya melibatkan mereka yang pernah mengalami satu atau lebih kegagalan pernikahan. Orang dewasa paruh baya berpendidikan tinggi lebih rentan mengalami perceraian, barnag kali karena keadaan ekonomi mereka lebih mapan membuat mereka lebih gampang meninggalkan pernikahan yang tidak bahagia (Skaff, 2006: Wu & Penning, 1997). Namun demikian, bagi banyak perempuan, perceraian – terutama bila terjadi berulang-ulang sangat mengurangi standar hidup. Oleh karena alasan ini, di usia paruh baya dan sebelumnya perceraian menjadi penyumbang kuat bagi feminimisasi kemiskinan yaitu sebuh tren ketika perempuan yang mandiri atau mendukung keluarga mereka telah menjadi mayoritas penduduk dewasa yang hidup dalam kemiskinan, tidak soal usia dan kelompok etnik mereka.
Apa kata orang paruh baya mengenai pernikahan mereka perempuan kerap kali menyebutkan masalah komunikasi,ketimpangan hubungan,perselingkuhan,hubungan yang semakin rengang,penyalahan narkoba, kekerasan fisik dan verbal, atau keinginan mereka sendiri, akan otonomi. Laki-laki juga menyebut komunikasi buruk dan kadang mengakui bahwa gaya hidup “gila kerja” atau sikap dingin mereka berperan besar bagi kegagalan pernikahan mereka. Dibanding laki-laki perempuan lebih cenderung memulai perceraian dan memiliki kesiapan psikologis sedikit lebih baik. Laki-laki yang memulai perceraian kerap kali sudah memiliki hubungan romantis lain sebagai pelarian (Rokach, Cohen,& Dreman,2004 : Sakraida, 2005 : Schneller & Arditti,2004).
Ø  Persahabatan
Semua usia, persahabatn antara sesama laki-laki kurang intim dibanding antar sesama perempuan. Lelaki lebih suka membicarakan olahraga, politik, dan bisnis, sedangkan perempuan berfokus pada perasaan dan masalah kehidupan. Perempuan mengaku memiliki lebih banyak teman dekat dan mereka saling berbagi dukungan satu sama lain (Antonucci, 1994).
Namun demikian, bagi kedua jenis kelamin, jumlah teman menurun seiring usia, mungkin karena orang menjadi segan untuk menjalain ikatan di luar keluarga kecuali memang benar-benar bermanfaat (Carbery & Buhrnester, 1998). Saat cara memilih teman semakin selektif, orang dewasa lebih tua sulit bergaul dengan teman-teman mereka (Antonucci & Akiama, 1995). Setelah memilih teman, orang paruh baya sangat menghargai betul hubungan itu dan mengambil langkah ekstra untuk mempertahankannya.
Di usia paruh baya, hubungan keluarga dan pesahabatan mendukung beragam aspek kesehatan psikologis. Ikatan keluarga melindungi dari ancaman dan kerugian serius, menawarkan rasa aman dalam waktu jangka panjang. Sebaliknya, persahabatan menjadi sumber kesenangan dan kepuasan,dengan perempuan lebih sedikit diuntungkan daripada laki-laki (Antonucci, Akiama, & Merline, 2002). Saat, pasangan paruh baya memperbarui rasa persahabtan mereka, mereka mungkin memadukan apa yang terbaik dari keluarga dan pershabatan mereka. Bahkan penelitian menunjukkan, bahwa melihat pasangan sebagai sahabat sangat berperan besar bagi kebahagiaan pernikahan (Bengtson, Rosenthal, & Burton, 1990).
Ø  Saudara Kandung
Seperti bisa dilihat dari hubungan seorang kakak laki-laki dengan adik perempuannya, saudara kandung idealnya sangat tepat untuk memberikan dukungan sosial. Akan tetapi, survey terhadap sampel besar orang Amerikadari beragam etnik menunjukkan bahwa kontak dan dukungan saudara kandung berkurang dari masa dewas awal hingga pertengahan, dan bertambah lagi baru di usia 70 tahun bagi saudara kandung yang tinggal berdekatan satu sama lain (White, 2001). Berkurangnya kontak paruh baya mungkin dikarenakan tuntutan akan ragam peran orang dewasa paruh baya. Akan tetapi, saudara kandung dewasa mengaku bertemu atau berbicara di telepon setidaknya setiap sebulan sekali (Antonucci, Akiama, & Merline, 2002). Meskipun kontak semakin berkurang, banyak saudara kandung merasa lebih dekat satu sama lain di usia paruh baya, seringkali sebagai repons terhadap peristiwa hidup besar (Stewart, dkk., 2001).
Ø  Sindrom Sarang Kosong
Sebuah peristiwa penting dalam keluarga apabila anak-anak yang beranjak dewasa mulai meninggalkan rumah menuju ke kedewasaan. Sindrom sarang kosong ini menyatakan bahwa kepuasan pernikahan akan menurun karena anak-anak mulai meninggalkan orangtuanya. Orangtua yang mengalami ini bilamana selama masa sebelumnya kepuasan ada pada interaksi bersama anak-anak.
Ø  Pengisian Waktu Luang
Individu pada masa dewasa madya atau tengah perlu menyiapkan diri unguk masa pensiun, baik secara keuangan maupun psikologis. Membangun dan memenuhi aktivitas-aktivitas luang merupakan bagian yang penting untuk persiapan masa pensiun, sehingga peralihan ke masa usia lanjut tidak begitu menekan individu yang dapat menyebabkan cemas.


A.      Perubahan Hubungan Orang Tua dan Anak
Hubungan positif orang tua dan anak dewasa mereka merupakan hasil dari sebuhan proses bertahap “Melepaskan Pergi” yang bermula  sejak masa kanak-kanak, memperoleh  momentumnya dimasa remaja, dan mecapai puncaknya dalam kehidupan mandiri anak-anak. 
Kebanyakan orang tua bisa menyesuaikan  diri dengan baik, hanya sebagian kecil saja mengalami kesulitan. Investasi dalam hubungan dan perang non orangt6ua, karakteristik anak, keadaan pernikahan dan ekonomi orangtua dan kekuatan budaya mempengaruhi sejauh mana transisi ini berdampak luas dan menguntungkan atau malah berdampak sedih dan membuat tertekan.  Sepanjang masa dewasa pertengahan, orangtua terus memberikan lebih banyak bantuan untuk anak daripada sebelumnya, khususnya ketika si anak belum menikah atau tengah menghadapi kesulitan, seperti perceraian atau pengangguran (Ploeg dkk; 2004 ; Zarit dan Eggebeen, 2002). Memberikan dukungan emosional dan keuangan saat anak sedang menjalani kehidupan mereka sendiri terkait dengan kesejahteraan psikologis di usia paruh baya.  Oleh karena terganggunya hubungan mereka sendiri dan kesulitan ekonomi, orang tua yang bercerai dan menikah lagi kurang memebrikan dukungan bagi anak dewasa dibanding orang tua dalam pernikahan pertama, dan mereka juga merasa kurang puas (Marks, 1995). Disbanding keberhasilan pendidikan dan kerja, penyesuaian psikologis anak lebih penting bagi penyesuaian orang tua di usia paruh baya (Ryff, Schmutte & Lee, 1996). Ketika anak dewasa muda tidak terlalu masalah emosional dan sosial, mereka memiliki hubungan lebih positif dengan orang tua mereka.  Adaptasi yang baik pada kepergian anak bergantung pada perasaan berhasil sebagai orang tua, bukannya perasaan jauh dari anak seseorang.
Ketika anak menikah, orang tua menghadapi tantangan lain ketika memperluas jaringan keluarga pada pihak mertua. Kesulitan terjadi bila orang tua tidak mengamini pasangan anak-anak mereka atau bila si pasangan muda mengadopsi gaya hidup yang tidak sejalan dengan nila-nilai yang dianut oleh orang tua. Bila hubungan hangat dan mendukung terus berlanjut, keintiman antara orang tua dan anak meningkat selama masa dewasa, dengan manfaat besar bagi kepuasan hidup orang tua (Ryff, Singer & Seltzer, 2002).
Ø  Cara Orang tua Paruh Baya Bisa Menumbuhkan Ikatan Positif dengan Anak Dewasa Mereka
Saran
Deskripsi
Tekankan komunikasi positif.
Biarkan anak dewasa mengetahui rasa hormat, dukungan, dan minat anda. Ini tidak hanya mengkomunikasikan kasih sayang, tetapi juga memungkinkan konflik ditangani secara konstruktif.
Hindari komentar tidak perlu yang lazim dilakukan di masa kanak-kanak.
Anak dewasa, seperti anak muda, menghargaihubungan yang sesuai dengan usia. Komentar yang ada hubungannya dengan keamanan, makan, dan perawatan diri (“hati-hati di jalan bebas hambatan”, “jangan makan itu”, atau “jangan lupa pakai sweatermu karena di luar sangat dingin”) dapat membuat anak dewasa merasa tidak nyaman dan mengganggu komunikasi.
Terima kemungkinan bahwa sejumlah nilai dan praktik budaya serta aspek gaya hidup akan berubah pada generasi selanjutnya.
Ketika membangun identitas pribadi, kebanyakan anak dewasa telah melalui proses evaluasi terhadap nilai dan praktik budaya dalam hidup mereka sendiri. Tradisi dan gaya hidup tidak bisa dipaksakan pada anak dewasa.
Ketika seorang anak dewasa menghadip kesulitan, tahan dorongan untuk “membereskan” segala sesuatunya.
Terima kenyataan bahwa perubahan berarti tidak bisa terjadi tanpa kemuan anak dewasa. Mencampuri dan mengambil alih dapat mengkomunikasikan kurangnya rasa percaya diri dan hormat. Cari tahu apakah anak dewasa menginginkan bantuan, saran, dan ketrampilan mengambil keputusan dari orang tua.
Yakinlah tentang kebutuhan dan prevensi anda sendiri.
Saat sulit untuk berkunjung, mengasuh bayi, memberikan bantuan orang lain, katakan terus terang dan lakukan kompromi masuk akal ketimbang membiarkan kebencian tumbuh.

B.      Makna Menjadi Kakek-Nenek
Orang dewasa paruh baya biasanya menilai sangat penting peran kakek-nenek, hampir sama seperti peran orangtua dan pasangan, tetapi melebihi peran dalam pekerjaan, putra atau putrid, dan saudara kandung (Reitzes & Mutran, 2002).
Sebagian besar orang menjalani peran kakek-nenek sebagai sebuah tonggak penting, dengan menyebutkan satu atau lebih dari kepuasan berikut:
·                     Sesepuh yang dihargai – dianggap sebagai orang yang bijak dan suka membantu.
·                     Keabadian melalui keturunan – meninggalkan tidak hanya satu tetapi dua generasi setelah kematian.
·                     Keterlibatan kembali pada masa lalu pribadi – mampu mewariskan riwayat dan nilai keluarga bagi generasi baru.
·                     Kegembiraan – bersenang-senang dengan anak-anak tanpa tanggung jawab pengasuhan yang besar (AARP, 2002; Miller & Cavanaugh, 1990).

Ø  Hubungan Kakek-Nenek dan Cucu
Gaya kakek-nenek dalam berhubungan dengan cucu sangat beragam sesuai dengan makna yang mereka berikan pada peran baru mereka. Usia dan jenis kelamin kakek-nenek dan cucu saling memiliki pengaruh. Oleh karena cucu mereka masih muda, kakek-nenek menikmati hubungan penuh kasih sayang dan kegembiraan bersama cucu mereka itu. Saat cucu mereka bertambanh besar, kakek-nenek meminta informasi dan nasihat pada mereka di samping kehangatan dan perhatian. Saat cucu mereka mencapai usia remaja, kakek-nenek menjadi model peran, ahli sejarah keluarga, dan penyampai nilai-nilai sosial, pekerjaan, dan agama. Tinggal dekat adalah penaksir paling kuat bagi interaksi langsung dan intens dengan cucu muda.
Keinginan kuat untuk memengaruhi perkembangan cucu dapat memotivasi keterlibatan kakek-nenek. Ketika cucu bertambha usia, jarak menjadi kurang begitu penting disbanding kualitas hubungan: Sejauh mana cucu remaja atau dewasa muda mempercayai nilai-nilai dalam kontak dengan kakek-nenek mereka merupakan penaksir bagus bagi ikatan dekat (Brussoni & Boon, 1998). 



A.    Studi Kasus
JAKARTA, KOMPAS.com — Perilaku agresi, kekerasan, atau pelecehan sungguh tidak populer di tengah masyarakat yang semakin beradab dan menghargai martabat manusia. Namun, jika banyak suami melakukannya terhadap istri, apa penyebabnya? Bagaimana dampaknya bagi para istri. Fakta menunjukkan bahwa agresi, kekerasan, atau pelecehan terhadap individu lain masih terus terjadi, bahkan antar orang terdekat di dalam rumah tangga.
Hal yang cukup memprihatinkan, kekerasan tidak terbatas di kalangan kurang terdidik, tetapi juga terjadi di kalangan yang berpendidikan tinggi. Meski cukup banyak wanita berpendidikan tinggi dan berkarier sambil menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga, cukup banyak di antaranya yang masih mengalami pelecehan oleh suami.
Salah satu bentuk pelecehan yang sering dilakukan suami adalah perintah disertai kata-kata kasar yang diucapkan ”tanpa perasaan”, ibarat seorang majikan kepada budak miliknya. Di sini, bukan kekerasan fisik yang terjadi, melainkan perlakuan dan ucapan yang semena-mena.  
Seorang ibu rumah tangga (usia 40 tahun), tampak sehat secara fisik, mengalami gejala depresi karena sering mengalami kekerasan verbal dan pelecehan emosional sepanjang perkawinannya yang telah berlangsung 15 tahun. Ibu yang masih gemar membaca ini meski masih runtut dalam bertutur kata, sorot matanya tampak layu. Telah tiga bulan ia menderita pusing-pusing sejak peristiwa kekerasan verbal yang dialaminya seusai merayakan 15 tahun perkawinan.
Hampir 15 tahun terakhir ini, karena alasan kesehatan, secara geografis ia dipisahkan dari suaminya oleh anak-anaknya sendiri. Pasangan ini hanya sesekali bertemu. Suaminya (mantan saudagar) bukanlah orang jahat, bukan pula orang yang telah berselingkuh dengan wanita lain. Namun, istrinya menderita semata-mata karena sifatnya yang keras dan sangat kasar kepada istri, anak-anak, dan orang lain.
Ibu yang lemah lembut ini merasa telah ”diinjak-injak” oleh suaminya sejak awal perkawinan. Meski ia telah melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik. Apa yang dialami oleh ibu di atas banyak juga diderita ibu lain yang lebih muda, meski dalam detail cerita yang berbeda-beda. Mereka tidak mengalami kekerasan fisik, memiliki pendidikan tinggi, memiliki konsep diri positif. Namun, toh banyak dari mereka yang menyimpan kisah kekerasan verbal atau pelecehan emosional oleh pasangan sendiri. Untunglah sebagian dari mereka mampu bertahan, bahkan ambil bagian dalam usaha menyehatkan emosi suaminya.

B.     Analisis Kasus
Teori yang digunakan pada kasus ini menurut kelompok kami adalah teori perkembangan sosial Erikson pada tahap generativity vs stagnancy dimana figure ayah maupun suami yang dilustrasikan pada studi kasus tersebut justru tidak bisa melakukan pembimbingan terhadap pasangan maupun generasi penerusnya mengingat sifatnya yang justru sangat kasar dalam bertutur kata terhadap istrinya.
Pelecehan emosional secara umum yang dilakukan oleh suami yang bertindak melecehkan istri sering kurang menyadari tindakannya sebagai pelecehan. Pelecehan atau kekerasan emosional biasanya lebih sulit dilihat dan dikenali daripada kekerasan fisik sehingga rentan terjadi berulang kali dan muncul dalam berbagai bentuk tanpa disadari. Pelecehan emosional mengikuti suatu pola, yaitu diulang-ulang dan berkesinambungan.
Pelecehan emosional, seperti bentuk kekerasan lainnya, merupakan kecenderungan yang ada di dalam diri seseorang. Biasanya ini berkembang karena lingkungan sosial yang tanpa disadari membentuknya menjadi demikian, terutama pola asuh orangtua yang diwarnai kekerasan.
Seperti berbagai bentuk pelecehan dalam hubungan, mereka yang paling lemah dalam kekuasaan dan sumber daya dalam masyarakat adalah yang paling sering mengalami pelecehan emosional.
Tidak ada definisi universal yang disepakati mengenai pelecehan emosional. Seperti halnya berbagai bentuk pelecehan dalam relasi sosial, pelecehan emosional (emotional abuse) didasarkan pada kekuasaan dan kontrol.
Berikut adalah bentuk-bentuk pelecehan atau kekerasan emosional yang dikenal secara luas :
·  Penolakan. Menolak mengenal atau menghargai orang yang hadir, menolak berkomunikasi, mendevaluasi pikiran dan perasaannya.
·  Menghina. Perilaku yang merendahkan identitas, martabat, dan harga diri seseorang. Contoh: berteriak, menyumpahi, merendahkan di depan umum atau menyebut si bodoh, mengejek ketidakmampuan seseorang, dan sebagainya.
·  Meneror. Melakukan teror atau membuat ketakutan berlebihan atas seseorang, melakukan intimidasi, menempatkan atau mengancam, menempatkan seseorang di tempat yang tidak sesuai atau berbahaya. Contoh: memaksa seorang anak untuk melihat tindak kekerasan terhadap anggota keluarga atau binatang peliharaan, mengancam meninggalkan atau melukai secara fisik atau membunuh seseorang atau binatang kesayangan, mengancam akan merusak milik orang lain, mengancam mendeportasi seseorang atau memasukannya ke dalam institusi (yang tidak diinginkan).
·  Mengisolasi. Pembatasan secara fisik, membatasi kontak yang normal dengan orang lain, membatasi kebebasan seseorang di dalam lingkungan sendiri. Contoh: melarang orang dewasa mengambil keputusan mengenai hidupnya sendiri, mengunci anak di toilet, menolak pasangan mengakses uang dalam urusan finansial, membatasi kontak dengan cucu, mengurangi dukungan untuk mobilitas atau transportasi.
·  Mengorupsi atau mengeksploitasi. Mensosialisasikan seseorang dalam gagasan atau perilaku yang berlawanan dengan standar hukum, menggunakan seseorang untuk keuntungan pribadi, melatih anak untuk memuaskan minat pelaku. Contoh: pelecehan seksual terhadap anak, membolehkan anak minum minuman alkohol dan obat-obatan, atau menonton pornografi, memikat seseorang untuk perdagangan seks.
·  Mengingkari tanggung jawab emosional. Kegagalan untuk memberikan perawatan secara peka dan bertanggung jawab, hubungan yang jauh dan tidak adanya keterlibatan, interaksi hanya bila diperlukan, mengabaikan kebutuhan akan kesehatan mental seseorang. Contoh: mengabaikan seorang anak yang ingin berinteraksi, kegagalan menunjukkan afeksi, perhatian, dan cinta terhadap anak.
Dampak terhadap pasangan dan anak :
·         Berbagai dampak pelecehan emosional perlu kita pikirkan. Bagaimanapun, pelecehan emosional mendukung pelecehan lainnya. Contohnya, pelecehan emosional oleh pasangan menyokong terjadinya kekerasan verbal maupun fisik.
·         Tidak ada kekerasan atau pelecehan yang terjadi tanpa efek psikologis. Semua bentuk pelecehan memuat elemen pelecehan secara emosional dan menimbulkan gangguan psikologis. Pelecehan emosional juga dapat melukai rasa harga diri dan konsep diri seseorang.
·         Pada anak, kekerasan atau pelecehan emosional sering diterapkan dalam upaya menegakkan disiplin, yang memiliki efek negatif menghambat perkembangan psikologis anak mencakup masalah: inteligensia, memori, rekognisi, persepsi, perhatian, imajinasi, dan perkembangan moral. Selain itu, dapat memengaruhi perkembangan sosial anak dan menghambat kemampuan mereka untuk mempersepsi, merasakan, memahami, dan mengekspresikan emosinya.
Demikianlah, pelecehan emosional merupakan fenomena yang masih jarang menjadi sorotan publik. Namun, prevalensi kejadiannya cukup besar dan memiliki dampak psikologis yang sama-sama menyakitkan seperti halnya bentuk kekerasan verbal yang lain atau fisik. Semoga kita bukan salah satu dari pelaku ataupun korbannya.
 

Bab III
Penutup
Kesimpulan
Seperti  yang terlihat pada fakta yang  terjadi,  di negara yang sedang berkembang,  khususnya di Indonesia, angka  pertumbuhan penduduk  dewasa  terus meningkat  jumlahnya, hanya sebagian  masyarakat yang memperhatikan kuantitas dan kualitas dari  peningkatan tersebut. Fakta yang terjadi di berbagai aspek kehidupan, khususnya dari segi sosial, kita bisa melihat banyaknya kesenjangan sosial antara orang miskin dan orang kaya, orang yang bekerja dan  menganggur. Tidak adanya kepedulian sosial-emosional antara satu sama yang lain. Akibatnya  ketidakproduktifan usia dewasa akan membuat kondisi negara terbebani.
Di masa dewasa pertengahan, sejumlah perubahan merupakan bentuk adaptasi terhadap peristiwa hidup luar (seperti sirklus kehidupan keluarga) yang sifatnya tidak lagi berdasarkan kelas usia dibandingkan dimasa lalu. Kebanyakan ornag dewasa paruh baya juga melaporkan perkembangan tahap-tahap,di mana masa-masa sulit memicu pemahaman dan tujuan baru.



Daftar Pustaka

Berk, Laura E. 2012. Development Through The Lifespan (Edisi Kelima) Dari Masa Dewasa Awal Sampai Menjelang Ajal (Volume 2). Yogyakarta: Pustaka Belajar
Santrock, John W. 2002. Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5, Jilid II. Jakarta: Erlangga
www.kompas.com (diakses tanggal 12 November 2012)

0 komentar:

Posting Komentar